Thursday, 15 June 2017

Beruntung Aku Memanggilnya Bapak

Seorang ayah pastinya memberikan kesan yang berbeda-beda terhadap seorang anak. Perhatian seorang ayah tidak sama dengan seorang Ibu yang multitasking. Ayah seperti sosok dibalik layar yang menyiapkan segala sesuatu dan memberi perhatian dengan caranya sendiri. Apapun hasil keringatnya menjadi bulir-bulir rezeki yang akan menjadi darah daging anak istrinya.
Bapakku. Seorang tukang bangunan yang aku sayang.

Beberapa orang biasanya memanggil sosok itu ayah, abah, babe, uwak, papa atau bapak. Beruntung aku memanggilnya bapak. Bapakku sosok yang pendiam sehingga membuat orang akan tertarik mendengarkan saat dia berbicara. Bapak orang pertama yang sibuk bertanya saat salah satu anggota keluarganya tidak ada di rumah saat dia pulang. Bapak hobi memasak. Dulu, waktu kecil, beliau suka memasak seafood untukku. Saat aku demam dialah orang pertama yang menyiapkan buah di meja untuk menghibur sakit tubuhku. Bapak juga orang yang pemurah yang akan selalu berbagi makanan walau hanya sedikit yang dia punya. Dia akan membawa pulang dua buah apel pemberian temannya dan diberikan ke kami anak-anaknya. Dibagi sama rata.
Saat aku menghabiskan masa studi di Pontianak seringkali aku merindukan perhatian-perhatian beliau. Saat aku pulang kampung, dia suka sekali masak ikan asap dan sambal goreng. Dia tahu itu makanan kesukaanku. Bagiku bapak punya sesuatu yang bapak-bapak lain tidak punya. Dia merasa kurang saat pulang rumah dengan tangan kosong. Dia akan pulang membawa sesuatu walaupun hanya dengan sebuah jeruk di tangannya. Sekarang, aku sangat rindu beliau. Rindu masakannya yang paling penting. Rindu ingin kembali ke masa kecil. Saat dia pulang membawa coklat batangan seharga seratus rupiah, rindu saat dia menjemput pulang sekolah menggunakan jas hujan saat anak yang lain masih menunggu orangtuanya, rindu diajak makan bakso bersama ibu setiap malam minggu, rindu saat dia pulang membawakan sebuah boneka tabungan berbentuk panda untukku belajar menabung.
Boneka tabungan hadiah Bapak sejak 20 tahun lalu.

Begitu aku bangga memiliki orangtua sepertinya walaupun di mata orang-orang dia mungkin sosok yang sangat banyak kekurangan. Dan aku sedikit kecewa dengan diriku sendiri belum bisa memberikan kebahagiaan. Dia yang selalu mengalah dalam hal apapun agar kami merasakan yang orang lain tidak rasakan. Dia selalu mengingatkan kami agar selalu berbagi makanan ke orang lain. Dia orang yang selalu sibuk menyiapkan bekal untuk aku kembali lagi ke Pontianak saat liburan telah usai. Dia orang yang kreatif, bisa mengolah makanan sederhana menjadi sangat enak.
Hanya cerita sosok beliau yang bisa aku bagikan bersama teman-teman, khususnya teman di Komunitas Blogger Pontianak. Dan tidak akan pernah menggambarkan semua rasa kerinduanku akan sosok dia. Tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun. Dia orang pertama yang terlintas dalam benakku saat aku melihat seorang bapak tua di tepi jalan maupun di mana saja. Semoga dengan adanya cerita ini dapat memberikan pencerahan bagi teman-teman yang kurang menghargai sosok orangtua laki-lakinya. Masih banyak sosok di luar sana yang butuh sosok seorang ayah. Dan aku punya Haniardi, nama bapakku yang selalu aku sayang. Pelukannya mungkin hanya dulu yang aku rasakan saat aku kecil, tapi perhatian dan kerja kerasnya sampai kapanpun akan tetap membekas di jiwa kami, anak-anaknya. Semoga lebaran kali ini aku bisa memberikan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang bisa menambah sedikit senyum wajah tuanya. Sehat terus ya Pak. Beri anakmu ini kesempatan untuk membahagiakan kalian berdua serta menghabiskan waktu di masa tua kalian.

Thursday, 25 May 2017

Warna Warni Tepian Kapuas di Kampung Wisata Kuantan

Sungai memang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat yang tinggal di tepiannya. Selain menjadi sarana lalu lintas dan tempat mencari rezeki, tidak menutup kemungkinan sungai juga sebagai aset daerah yang menjadi nilai jual untuk dijadikan tempat wisata. Di tulisan saya sebelumnya saya berbagi cerita tentang wisata menyusuri Sungai Kapuas di malam hari menggunakan Kapal bandong. Selain menyusuri dengan duduk di atas Kapal kecil, kita juga bisa sambil berjalan kaki ke perkampungan warga di tepi sungai. Akhir-akhir ini daerah tepi Sungai Kapuas di Pontianak Selatan terlihat lebih berwarna. Tepatnya saat kita memasuki gang Kuantan. Sebuah gang di Jalan Imam Bonjol. Beberapa komunitas berinisiatif untuk menambahkan beberapa warna di rumah, gerta' (jembatan) serta tembok jalan bahkan warung di sepanjang tepi sungai.

 Kampung Wisata Kuantan Pontianak yang penuh warna. Foto: @blogsteguh
Gerbang Kampung Wisata Kuantan di Pontianak Tenggara. Foto: @blogsteguh

Jembatan yang berwarna warni di Kampung Wisata Kuantan
Awalnya terdapat tempat nongkrong di daerah ini yang di beri nama Gerta' coffe dan Tepian Sungai Kapuas. Menyediakan snack dan minuman hangat maupun dingin untuk menemani saat menikmati senja serta pemandangan Sungai Kapuas yang dari kejauhan beberapa pemudi tampak bermain kano. Wisata sungai Kapuas sekarang bukan hanya canoeing tetapi juga wisata kampung Kuantan. Begitu orang-orang menyebutnya. Tampak beberapa pondasi kayu yang tertancap di kedalaman sungai sebagai tempat pembuatan dan peletakan meriam karbit. Meriam yang menjadi tradisi akan ditembakkan saat menyambut Idul Fitri.
Tempat bersantai Gerta' Coffee di Kampung Wisata Kuantan
Bermain kano. Salah satu wisata Sungai Kapuas.
Saat tiba di ujung gang kita akan disambut Sungai Kapuas dan jembatan yang mengarahkan kita ke gerbang kampung wisata Kuantan dan hamparan jembatan yang dilukis dengan berbagai pola warni warni. Sebuah cafe terbuka tampak di tepiannya. Dihiasi ornamen lampu dan hiasan kayu tanpa atap hanya terdapat meja dan kursi. Saat melewati cafe itu kita akan disuguhkan pemukiman warga yang padat yang didominasi rumah kayu dan beberapa tembok yang sudah dihiasi kreativitas dari komunitas gravity. Tampak mencolok namun indah. Beberapa pesan tulisan untuk tidak membuang sampah di parit/sungai serta ucapan selamat datang. Dari kejauhan tampak jembatan Kapuas melintang di atas Sungai terpanjang di Indonesia ini. Angin sepoi-sepoi dan alunan lagu menemani beberapa pengunjung yang datang untuk bersantai atau hanya sekedar mengabadikan momen berwarna mereka.
Salah satu dinding rumah warga yang bertuliskan pesan berwarna.

Anak kecil yang sedang menikmati waktu mandi mereka di Sungai Kapuas
Walaupun jembatan yang dijadikan tempat lalu lalang warga terbilang sempit namun warga di sana maklum dan ikut menerima wilayah mereka dijadikan tempat wisata yang kini ramai dikunjungi. Anak-anak kecil tampak mandi dan bersalto ria terjun ke sungai. Kami dan beberapa pengunjung tidak ingin ketinggalan momen memotret keasyikan mereka. Beberapa perahu nelayan dan mereka yang berlomba mendayung Kano tampak mulai remang. Di satu sudut tampak pot-pot bunga kecil yang terbuat dari botol bekas juga tampak menghiasi dengan penuh warna. Sore hari merupakan momen yang tepat untuk berkunjung ke tempat ini. Selain menghindari sengatan matahari yang cukup panas juga kita akan melihat senja di atas sungai Kapuas hingga kerlap kerlip lampu yang menghiasi daerah sekeliling. Tips untuk berkunjung ke sini bagi yang tidak bisa berenang lebih baik agar sedikit berhati-hati dan tetap menghormati warga sekitar saat memotret maupun sekedar melintas di jembatan serta jangan buang sampah sembarangan! Sampai bertemu di Kampung Wisata Kuantan. :)
Jendela rumah warga bertuliskan pesan larangan membuang sampah sembarangan.
Hiasan pot berwarna-warni di Kampung Wisata Kuantan. Foto: @blogsteguh
Gerta' atau jembatan yang diwarnai dengan berbagai motif.

Friday, 19 May 2017

Berbagi Momen Traveling akan Mudah dengan Layanan 4G XL Axiata

Traveling tentunya akan terasa kurang jika kita tidak mengambil gambar dan sharing ke dunia maya. Apalagi jika kita mengunjungi Wisata kota. Berbicara mengenai dunia maya pasti tidak luput perbincangan akses internet yang cepat agar memudahkan kita membagikan momen, berkomunikasi serta berbagi info. Kota Pontianak salah satu Kota Wisata di Kalimantan Barat yang menjadi tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara dengan beragam kuliner maupun wisata budayanya. Di waktu ini, banyak orang menggunakan aplikasi yang menyediakan fitur live. Update informasi atau momen traveling secepat mungkin. Pertanyaannya dapatkan kita live di momen berharga saat traveling bila koneksi kurang lancar atau kurang cepat?? Dukungan dari jaringan koneksi yang cepat pasti akan memanjakan semua pengguna hape android saat ini. Kabar baiknya, PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) terus melanjutkan perluasan layanan 4G LTE ke berbagai wilayah Nusantara termasuk Kalimantan Barat yang sudah mendapatkan kesempatan untuk bisa memanfaatkan layanan internet cepat ini sejak April 2017.
Kata Sambutan Wakil Walikota Pontianak, Bapak Edi Rusdi Kamtono

Pada Press Conference Peluncuran Layanan 4G LTE di Hotel Golden Tulip Pontianak, Kamis siang (18/5), turut hadir Chief of Commerce XL Axiata - Kirill Mankovski, GM LTE Execution Assurance XL Axiata - Ronhugo Verry Leonard Tambunan, GM Finance & Management Services XL Axiata North Region – Mozes Haryanto Baottong dan Regional Marketing Manager (RMM) XL Axiata North Region – Luce Lolo. Bapak Wakil Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono juga ikut hadir dalam menyampaikan apresiasi serta harapan atas peningkatan layanan data XL di Kota Pontianak. Beberapa area publik di Pontianak yang sudah terjangkau layanan 4G LTE dari XL adalah Pusat Pemerintahan Kota Pontianak, Universitas Tanjungpura, Mall Ayani, HP Center Katulistiwa Plaza, Pelabuhan Pontianak, ALun-alun Kapuas, Tugu Katulistiwa, Taman Digulis, Bandar Udara Supadio, Area Kopi Central Gadjah Mada, dan lain-lain. Beruntungnya, area publik itu merupakan aset Wisata kota Pontianak yang sedang ramai dilewati dan dikunjungi oleh para wisatawan.
Selain Kota Pontianak, Kota serta Kabupaten lainnya juga pasti membutuhkan peningkatan layanan data demi untuk mendongkrak tempat wisata daerah masing-masing. Kedelapan kota/kabupaten yang termasuk ke wilayah Kalimantan Barat yang kini terjangkau jaringan layanan 4G LTE adalah Kota Pontianak, Kab. Kubu Raya, Kab. Ketapang, Kab. Pontianak, Kab. Bengkayang, Kab. Sambas, Kota Singkawang, dan Kab. Sanggau. Secara bertahap, XL Axiata akan terus meningkatkan kualitas jaringan dengan menambah area cakupan layanan di setiap kota, termasuk menambah jumlah BTS 4G. Saat ini, total BTS 4G yang telah tersedia di seluruh Kalbar adalah 36 BTS 4G dan akan segera bertambah 94 BTS 4G lainnya. Cakupan layanan 4G LTE diprioritaskan di area-area yang memang paling membutuhkan akses internet cepat dan Data digital, seperti pusat pemerintahan, bisnis, perdagangan, area publik, dan pendidikan.
Total jumlah pelanggan XL Axiata di seluruh Kalbar lebih dari 225 ribu pelanggan. Sebanyak 73% di antaranya secara aktif menggunakan layanan Data. Kenaikan trafik layanan data terutama dipicu oleh akses fitur video dan akses ke berbagai media sosial. Hal inilah yang mmenjadikan alasan utama dalam peningkatan jaringan data XL 4G LTE, akses pada konten-konten berkapasitas besar akan lebih baik, cepat, dan stabil. Keunggulan ini akan sangat cocok untuk dimanfaatkan oleh masyarakat, selain Wisata juga akan mendukung kinerja bisnis perorangan maupun usaha kecil menengah.
Daftar Harga Paket Data Internet XL
Hingga akhir tahun 2017 nanti akan ada 38 kabupaten/kota di Kalimantan yang akan menikmati layanan 4G LTE dari XL. Kabupaten/kota lain di wilayah Kalimantan yang akan mendapatkan layanan 4G LTE antara lain adalah Barito Kuala, Kutai Kartanegara, Balangan, Barito Selatan, Barito Timur, Berau, Bulungan, Gunung Mas, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Kapuas, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Kutai Barat, Kutai Timur, Nunukan, Pasir, Penajam Paser Utara, Pulang Pisau, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tapin, Kota Baru, Kota Bontang, dan Kota Tarakan. Lalu, bagaimana dengan harga paket datanya? Dalam mendukung penetrasi dan melayani kebutuhan jaringan 4G, paket Xtra Combo Lite hadir untuk memberikan pengalaman Xtra kepada pelanggan melalui beragam pilihan. 11GB + 15 menit ke semua operator di harga 55 ribu, 21 GB + 15 menit ke semua operator 85 ribu, 31 GB + 15 menit ke semua operator 105 ribu. Untuk memperoleh paket ini, dapat langsung mengunjungi toko pulsa terdekat.

Friday, 31 March 2017

Gong Perdamaian Menggema di Kota Singkawang dan Ambon


Gong Perdamaian Nusantara di area Kantor Walikota Singkawang, Kalimantan Barat

Tulisan saya kali ini akan bercerita sedikit tentang keberadaan gong di Indonesia. Bukan sembarang gong, gong ini melambangkan kerukunan antar umat dan suku yang ada di Indonesia. Kebetulan, saya pernah bertemu dua di antaranya. Satu Gong Perdamaian Nusantara dan satu lagi Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong). Mengapa ada gong-gong tersebut? Menurut Djuyoto Suntani sebagai Presiden Komite Perdamaian Dunia, menyimak sejarah suku bangsa dunia, yaitu bangsa Lemuria yang diyakini hidup di kawasan Gunung Muria, Provinsi Jawa Tengah. Bangsa Lemuria merupakan bangsa dengan peradaban besar pada masa 60.000 tahun sebelum Masehi sebelum bumi yang dulunya satu daratan terpecah-pecah begitu pula dengan bangsa Lemuria yang ikut berpencar. Berdasarkan keyakinan induk peradaban manusia berasal dari bangsa Lemuria, maka beliau mencanangkan Jawa Tengah sebagai provinsi perdamaian. Juga dengan adanya keyakinan Jawa Tengah sebagai pusatnya Nusantara muncullah ide pembuatan icon perdamaian dunia dalam bentuk gong. Desa Plajan ditunjuk sebagai pusat peradaban dunia karena di sini terdapat gong keramat yang sudah berusia 450 tahun milik seorang wali yang menyebarkan Islam di Jepara, Jawa Tengah. Gong yang dihasilkan di Desa Plajan ada beberapa jenis yaitu: Gong Perdamaian Nusantara (GPN), Gong Perdamaian Dunia dan Gong Perdamaian Asia-Afrika.
Setelah sejarah singkat mengenai munculnya gong, saya akan melanjutkan cerita saya pertama kali hingga sekarang bertemu gong-gong perdamaian tersebut. Gong pertama yang saya temui adalah Gong Perdamaian Dunia di Taman Pelita Balai Kota Ambon. Berbentuk seperti gong pada umumnya, bundar dan terdapat tonjolan di tengah tempat untuk memukul gong. Gong yang ada di Ambon merupakan Gong Perdamaian ke-35 di dunia yang bertujuan memperbaiki citra Ambon yang dulu pernah mengalami masa kerusuhan dan konflik antar agama. Diharapkan dengan adanya gong ini tidak akan ada lagi konflik sara, terosisme dan lain-lain di Indonesia maupun dunia. Selain di Ambon, Gong Perdamaian Dunia juga terdapat di Bali, Geneva (Swiss), Shandong (Cina) dan Palu (Sulawesi Tengah).
Gong Perdamaian Dunia di Taman Kota Ambon. 2013
Gong Perdamaian Dunia di Kota Ambon saat malam hari. Foto: SYH

Setelah gong pertama yang saya temui, gong kedua terletak sangat dekat. Walaupun ini Gong Perdamaian Nusantara namun memiliki tujuan yang sama dengan Gong Perdamaian Dunia. Terletak di Jalan Firdaus di Kantor Walikota Singkawang, Kalimantan Barat. Gong ini tanpa sengaja saya temui saat browsing tentang gong perdamaian. Alhasil, ternyata Kalimantan juga punya bahkan sebelum saya mengunjungi gong di Ambon. GPN juga terdapat di Kupang dan Yogyakarta. Singkawang cukup beruntung menerima gong perdamaian ini, dikarenakan kota yang dikenal dengan hongkongnya Indonesia ini memiliki keberagaman etnis, agama dan budaya yang berbeda-beda hidup dalam kerukunan.
Berbeda dengan Gong Perdamaian dunia yang dihiasi bendera berbagai Negara dari seluruh dunia, Gong Perdamaian Nusantara (GPN) dihiasi lambang kota maupun provinsi yang ada di Indonesia di lingkaran luarnya. Untuk bagian lingkaran tengah terdapat tulisan Gong Perdamaian Nusantara di bagian atas dan tulisan Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Bangsa di bagian bawahnya. Di bagian lingkaran inti akan kita temui 5 lambang agama yang ada di Indonesia mengelilingi peta nusantara. Untuk gong perdamaian dunia bagian lingkaran tengah bertuliskan World Peace Gong di bagian atas dan Gong Perdamaian Dunia di bagian bawah. Lalu untuk lingkaran inti terdapat 9 lambang agama besar yang ada di dunia dengan relief globe di bagian tengahnya.
Gong Perdamaian Nusantara di Kota Singkawang
Pemberian gong juga berdasarkan kelayakan daerah untuk diberikan gong-gong tersebut. Keharmonisan multi etnis maupun daerah yang pernah mengalami masa konflik seperti Ambon dan Singkawang. GPN dibuat lima unit berdasarkan makna pancasila. Lalu menurut rencana akan menyusul Kutai Kartanegara dan Kota Makassar. Diharapkan dengan adanya keberadaan gong-gong perdamaian di Indonesia ini sebagai simbol perdamaian yang hakiki untuk mewujudkan negara kesatuan Republik Indonesia. Bunyi gong yang bergema menjadi gaung perdamaian dan kerukunan antar umat di Indonesia walaupun berbeda suku, bangsa dan agama.

Saturday, 18 March 2017

Indahnya Pantai Kura-kura di Sungai Raya Kepulauan Bengkayang

Sunset di Pantai Kura-kura Bengkayang

Pantai Kura-kura yang terletak di Tanjung Gondol Kecamatan Sungai Raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang memang termasuk salah satu pantai yang cukup indah di daerah Pantai Utara Kalimantan Barat. Baru-baru ini pintu masuk menuju pantai dibangun sebuah patung kura-kura yang cukup besar. Seperti kura-kura ninja, sang kura-kura berdiri di tepi jalan raya menuju Kota singkawang jika kita melakukan perjalanan dari Ibu Kota Provinsi. Berjarak kurang lebih 115 Km dari Kota Pontianak tempat ini cukup mudah didatangi sekitar 3 jam perjalanan menggunakan motor. Saat memasuki pos masuk di bagian dalam kita akan dipungut biaya masuk Rp 5000 - Rp 10.000.
Patung Kura-kura di jalan masuk menuju Pantai Kura-kura

Pantai ini belum banyak pembangunan seperti pantai lainnya kecuali Pembangkit Tenaga Listrik, dan beberapa warung serta pondok kecil (saung) yang sengaja dibuat menggunakan bahan alami berupa kayu dan bambu berderet rapi di sepanjang tepi pantai untuk tempat berteduh dan menikmati pemandangan. Mengapa disebut pantai Kura-kura? Menurut cerita, dahulu sebelum adanya pemukiman penduduk yang ramai seperti sekarang pantai tersebut menjadi tempat persinggahan penyu untuk bertelur. Namun seperti yang kita ketahui penyu tidak akan pernah mau datang ke tempat yang ramai penduduk dikarenakan kura-kura laut ini sangat sensitif terhadap cahaya. Di balik pantai yang indah kini terdapat sejarah satu spesies makhluk hidup yang kehilangan tempat mereka untuk bertelur.
Saat memasuki jalan menuju pantai kita akan disuguhkan pemandangan Bukit Temenung yang baru-baru ini juga menjadi tempat hiking yang diburu penikmat alam untuk menikmati pemandangan yang indah dari puncak bukit, bukit yang memiliki hamparan ilalang di bagian atasnya akan terlihat lebih indah jika kita mengambil gambar dengan latar belakang lautan yang membiru di bagian bawah dengan pasir pantai yang memanjang. Setelah melewati pemukiman penduduk, pemakaman muslim dan beberapa perkebunan kita akan melihat beberapa pohon palm juga tampak menghiasi tepian pantai. Saat kita memasuki area pantai kita akan melihat beberapa warung-warung kecil yang menjual makanan ringan dan minuman hangat maupun dingin, tampak beberapa kamar kecil juga tersedia di beberapa tempat.
Tanjung Batu Belat di Pantai Kura-kura 

Bagi yang inginkan tempat untuk menginap di ujung pantai terdapat sebuah penginapan sederhana, Batu Belat namanya. Batu Belat merupakan nama sebuah tanjung yang berbatu-batu terletak di tempat yang sepi biasanya dijadikan para pemancing untuk memancing udang. Di sini kita bisa menikmati sunset dan pemandangan Pulau Kabung di seberang lautan. Saat di musim tertentu air yang terlihat membiru dan sangat jernih, hanya ada sebuah warung kecil di sini. Sepetak tanah yang dihiasi pohon cemara serta bebatuan yang tampak menghiasi tepian pasir. Untuk mencapai ke tempat ini kita akan melipir ke tepi bukit yang sangat terjal namun masih bisa dilewati menggunakan roda empat walaupun sangat sempit. Untuk mendaki ke Bukit Temenung kita juga harus melewati jalan ini. Pantai ini sangat cocok dijadikan tempat untuk camping, hiking, berenang, memancing maupun sekedar menikmati pemandangan. Saat melakukan perjalanan ke daerah Sambas maupun Singkawang sangat dianjurkan untuk singgah melepas penat sambil menikmati pantai.

Friday, 17 March 2017

Jangan Lewatkan! Hari Tanpa Bayangan, Pesona Kulminasi Matahari

Miniatur Tugu Khatulistiwa
Kulminasi jika kita artikan melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti puncak atau titik tertinggi. Di Kota Khatulistiwa sudah tidak asing dengan fenomena kulminasi. Namun bukan berarti Kota Pontianak berada di titik tertinggi, melainkan Pontianak sebagai satu-satunya Kota yg tepat dilewati garis Equator atau garis Khatulistiwa. Oleh karena itu Pontianak beruntungnya mengalami fenomena kulminasi, di mana posisi matahari berada tepat di garis Equator. Fenomena ini terjadi 2 kali dalam setahun. Fenomena alam yang juga sangat erat kaitannya dengan gerak semu matahari ini yang terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September setiap tahunnya.
Gerak Semu Matahari

Di bulan Maret ini Pemerintah Kota Pontianak kembali mengadakan event tahunan dalam menyambut detik-detik kulminasi. Saat matahari berada tepat di garis Khatulistiwa, maka kita akan melihat semua benda hidup maupun mati tidak akan mempunyai bayangan. Melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Pesona Kulminasi Matahari pertama di tahun ini akan dilaksanakan selama tiga hari (21-23 Maret 2017). Menurut BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio waktu tanpa bayangan di hari pertama dan kedua terjadi pada pukul 11.50 WIB dan di hari ketiga pada pukul 11.49 WIB.
Adapun tema yang dipilih dalam kegiatan ini adalah "Pontianak Kota Khatulistiwa Menuju Masyarakat Kreatif yang berdaya saing". Dengan mengusung tema ini diharapkan agar masyarakat sebagai pelaku ekonomi Kreatif akan mendapat tempat dalam pembangunan Kota Pontianak, lebih dihargai serta mampu bersaing dengan daerah lain. Pelaksanaan Pesona Kulminasi di Bulan Maret ini dilaksanakan tanpa seremonial, meskipun begitu tetap diisi dengan kegiatan berupa penampilan tarian daerah (Melayu dan Dayak), Tarian Tionghoa, Lagu dan Musik Daerah, Tarian Kontemporer, Pantun, Syair, Tundang, sulap serta stand kuliner dari berbagai komunitas serta lomba selfie yang akan dimulai pada hari pertama kegiatan. Untuk lomba selfie nantinya peserta harus mencantumkan hastag (#PesonaKulminasiMatahari).
Pelaksanaan Pesona Kulminasi Matahari ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan icon Kota Pontianak, yaitu tugu Khatulistiwa, mensosialisasikan Branding Pariwisata Kota Pontianak yaitu Pontianak Kota Khatulistiwa. Selain dari itu juga bertujuan untuk memperkenalkan sub sektor ekonomi kreatif, seni budaya daerah dan kuliner yang ada di Kota Pontianak. Dengan adanya tujuan-tujuan tersebut maka Pemerintah Kota Pontianak mengikutsertakan keterlibatan para komunitas sub sektor ekonomi kreatif di Kota Pontianak seperti komunitas fotografi, komunitas sulap, komunitas pengamen jalanan, sanggar-sanggar seni dan budaya serta prodi seni FKIP Untan Pontianak.
Pers Conference Pesona Kulminasi Matahari di Hotel Kartika Pontianak 
Pers Conference Kegiatan Pesona Kulminasi Matahari di Hotel Kartika Pontianak

Dalam pers Conference yang diadakan di Hotel Kartika Pontianak, Bapak Syarif Saleh sebagai Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata mengatakan bahwa dengan adanya keterlibatan komunitas yang ada diharapkan akan memberikan warna berbeda dalam fenomena tanpa bayangan di Kota Pontianak nanti serta menjadi titik awal kebangkitan Ekonomi Kreatif di Kota Khatulistiwa. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, Pesona Kulminasi ini didukung penuh oleh Pengembang "Khatulistiwa Park" yaitu PT. Mitra Bangun Kota. Pers Conference yang berlangsung singkat saat itu juga dihadiri dari berbagai komunitas media salah satunya Komunitas Blogger Pontianak. Bapak Syarif juga berharap adanya kerjasama rekan-rekan media dalam mempublikasikan kegiatan Pesona Kulminasi Matahari 2017 ini agar semakin banyak masyarakat yang ikut terlibat serta menarik minat pengunjung untuk datang ke Tugu Khatulistiwa.

Wednesday, 8 March 2017

Batu Daya, Bukit Unta Raksasa Kalimantan Barat

Bukit Unta atau biasa dikenal dengan Batu Daya merupakan bukit batu terbesar yang ada setelah bukit Kelam di Sintang. Bukit ini terletak di Desa Batu Daya Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Ketapang. Untuk menuju ke sana kita bisa melalui dua rute perjalanan. Rute air dan darat. Rute perjalanan air memerlukan waktu yang sedikit panjang dibandingkan jalur darat yang hanya menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam. Memulai perjalanan dari ibu kota provinsi Kalimantan Barat, Pontianak, untuk jalur air kita akan melalui pelabuhan kapal klotok di Rasau Jaya. Perjalanan air memakan waktu 12 jam untuk tiba di teluk Melano. Lalu perjalanan akan kita lanjutkan menggunakan sepeda boat kurang lebih 45 menit perjalanan. Menyusuri sungai Matan, kita akan tiba di Desa Matan dan masih harus menyusuri jalan tanah perkebunan. Biasanya kita bisa menumpang atau carter truk yang kebetulan melintas di lahan perkebunan. Bukan hal yang aneh jika kita lihat di kiri dan kanan perjalanan hampir keseluruhan lahan tampak tersusun rapi pohon sawit.
Batu Daya yang tampak seperti seekor Unta sedang duduk

Perjalanan menggunakan truk bisa sampai tiba ke kaki Bukit Daya di radius 2 km menuju bukit kita akan melihat sebuah sekolah dasar yang disediakan perusahaan untuk anak-anak kampung yang tinggal di desa Batu Daya. Kita akan bertemu Bang Aliong, begitu beliau disapa. Rumahnya terletak persis di depan Batu Daya, batu yang katanya bisa memperdaya mata manusia. Bentuknya yang berubah-ubah jika dilihat dari arah yang berbeda. Namun, di rumah bang Aliong kita cukup beruntung melihat batu Daya berbentuk seperti seekor unta yang sedang beristirahat. Hutan di sekeliling batu Daya hanya tertinggal sedikit sekali. Di tahun 1980-an dulunya juga pernah terjadi tragedi kecelakaan seorang pemanjat yang jatuh dari atas tebing lalu meninggal dunia. Bukit ini terkenal angker dan menurut kepercayaan masyarakat sekitar beberapa tahun belakangan pernah ada seorang pemburu hilang di dalam hutan. Konon katanya hutan tersebut dihuni oleh kera putih.
Untuk memasuki daerah Batu Daya kita akan diwajibkan untuk melakukan upacara adat. Sebagai bentuk perizinan agar diberi keselamatan saat mendaki maupun memanjat. Upacara adat harus dilakukan di kaki bukit. Ketua Adat akan membacakan doa-doa dan menyajikan sesajen berupa nasi kuning yang diberi lauk pauk berupa telur rebus dan ayam kampung berwarna hitam yang sudah terpanggang. Minuman khas masyarakat Dayak berupa tuak juga tidak ketinggalan. Selama ritual dilaksanakan kita diminta juga untuk berdoa di dalam hati menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Setelah prosesi upacara adat selesai, barulah kita diizinkan untuk melakukan kegiatan. Pantangan-pantangan berupa menjaga Tutur kata selama dalam hutan juga harus dijaga. Dilarang untuk mengumpat, berteriak, membakar sesuatu yang berbau menyengat di malam hari, serta dilarang berteriak memanggil nama teman. Menurut kepercayaan warga, jika kita memanggil teman dengan cara berteriak, penjaga hutan atau makhluk halus akan menyerupai teman kita. Begitu pula saat melanggar pantangan yang diberikan, kita akan diganggu oleh penjaga hutan. Sebuah kewajiban untuk kita menghormati adat istiadat masyarakat setempat. Sebagai bentuk tenggang rasa antar suku yang berbeda-beda.
Bukit yang satu ini merupakan idola bagi para pemanjat lokal maupun luar. Tebing tinggi yang siap untuk dijamah tampak begitu gagah di bawah langit. Batu daya sebenarnya terdiri dari 3 buah batu besar yang terletak berdekatan. Yang paling besar disebut Batu Daya, yang terletak di belakang batu Daya adalah Kuang Kande' dan yang terkecil menyerupai kepala Unta itu Belah Ullu. Di atas Belah Ullu terdapat tonjolan batu kecil berbentuk sedikit persegi yang disebut Raban Manok (Kandang Ayam) karena bentuknya yang menyerupai kandang ayam.
Sekian cerita padat dan singkat mengenai Batu Daya atau Bukit Unta. Bukit unik ini pantas untuk kita jaga bersama sebagai tempat destinasi yang unik dan cukup terkenal di kalangan para pendaki maupun pemanjat. Bukit dengan ketinggian 958 mdpl ini hampir keseluruhannya terdiri atas tebing tinggi yang menjulang. Sedikit tips untuk para climber untuk jangan lupa melakukan persiapan fisik dan teknik tidur di tebing (flying camp) saat memanjat tebing ini. Lets rock!
Foto di tahun 2013

Foto bersama Local Guide dan Pemanjat Jepang. Doc: 2013