Wednesday, 9 November 2016

Perjalanan Panjang Mendaki Gunung Bukit Raya

Perjalanan mendaki gunung di hutan hujan tropis memang bukan kali ini saya lakukan. Namun untuk yang paling tinggi dan paling jauh perjalanannya tak salah saya memperlakukan sedikit spesial untuk Bukit Raya. Walaupun perjalanan kali ini untuk menemani teman-teman dari pulau seberang yang bertujuan untuk mengejar Seven Summits Indonesia yang salah satunya adalah Puncak Kakam (2278 m dpl). Cerita lain untuk perjalanan kami kali ini adalah kami mendaki bertepatan momen Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Perjalanan awal kami bertemu di Bandar Udara Sintang sebagai tempat pertemuan (meeting point) mereka menjejakkan kaki di bumi Kalimantan. Lalu perjalanan selanjutnya menuju Nanga Pinoh atau sebutan khasnya sebagai Kota Juang Kalimantan Barat. Bermodal bis kecil tua bermuatan 14 orang kami menuju Kota Juang dengan perjalanan sekitar 5 jam. Tiba di Kota Juang kami harus mengurus penginapan untuk malam ini dikarenakan perjalanan besok harus dimulai pagi hari menggunakan speedboat. Setelah mendapat penginapan di posisi strategis di antara persimpangan dan tengah Kota serta tidak jauh lokasinya dari dermaga speedboat, kami pun siap untuk menikmati malam di Kota Nanga Pinoh. Beberapa dari kami menikmati makan malam di tengah Kota sembari berbelanja untuk keperluan perjalanan selanjutnya.
Pagi di Melawi mengantarkan kami menuju dermaga speedboat untuk melanjutkan perjalanan ke Serawai. Pengalaman menaiki speedboat dengan kecepatan yang menegangkan cukup memacu adrenalin karena dengan muatan penuh akan manusia dan barang. Di tengah perjalanan kami harus mengisi bahan bakar speedboat dan istirahat sebentar. Pemandangan air yang sudah tercemar karena tambang ilegal juga mewarnai perjalanan selain daripada perkampungan-perkampungan kecil di sepanjang sungai dan beberapa sarang lebah madu hutan yang dari jauh terlihat bergelantungan di dahan pohon.

Perjalanan menuju Serawai. Doc: Bg Elyudien dan Mas Utut

Setiba di Serawai kami harus makan siang, mengurus pemberitahuan kegiatan dan memindahkan barang serta perlengkapan pendakian ke transportasi selanjutnya, yaitu long boat atau orang setempat menyebutnya perahu klotok. Perahu klotok (long boat) bermuatan 10 orang ditambah barang. Melanjutkan perjalanan menggunakan perahu bermesin ini akan menyita waktu yang lama seandainya keadaan air sungai kering saat musim kemarau. Perjalanan yang normalnya sekitar 5 jam pada saat itu kami lewati lebih lama. Tujuan utama yaitu Jelundung, meleset menjadi Barasnabun dikarenakan long boat yang kami naiki beberapa kali menabrak bahkan berputar arah melawan arus ditambah lagi kipas mesin yang patah. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Bahkan saya yang pernah melakukan pendakian melalui jalur air juga belum pernah mengalami tabrakan-tabrakan seperti itu. Barasnabun yang terletak satu jam perjalanan lagi menuju Jelundung menjadi tempat kami istirahat malam itu.

Perjalanan menuju Jelundung menggunakan longboat. Doc: Bg Elyudien

Rencana untuk tiba di Rantau Malam pada malam hari akhirnya berubah. Kami tiba di Desa Rantau Malam pada pagi hari. Beberapa teman menyarankan untuk merubah nama Desa menjadi Rantau Pagi :D Lalu kami langsung melaksanakan upacara adat untuk keselamatan para pendaki. Ritual adat yang harus mengorbankan ayam untuk diambil darahnya tersebut akan didoakan oleh para tetua bersama Kepala Adat. Kemudian para pendaki akan dipasangkan gelang dari bahan serat kayu di tangan sebelah kanan, dimana sebelumnya gelang tersebut harus direndam di dalam darah ayam. Setelah menyelesaikan prosesi adat istiadat, pendaki masih melanjutkan perjalanan menuju pintu rimba yaitu Koronghape. Disebut Koronghape karena ini merupakan tempat terakhir bisa mendapatkan sinyal operator hape.

Foto bersama Kepala Adat. Doc: Bg Elyudien

Pendakian hari pertama memberikan kesan yang menghebohkan bagi teman-teman yang naik. Dikarenakan kami diserang pacet (keluarga dari lintah yang menghisap darah, Haemadipsa sp). Beberapa teriakan kecil dan gumaman kekesalan akan hisapan hewan kecil itu kadang mewarnai perjalanan. Senjata berupa tembakau, autan hingga minyak kayu putih kadang sedikit membantu. Jalur pendakian di hari pertama tergambar melandai namun agak panjang dan dibayangi serangan pacet yang berwarna coklat gelap. Malam pertama pendakian kami tetapkan di Pos Hulu Rabang. Pos ini memiliki air yang melimpah dan tempat yang paling luas diantara pos-pos lainnya. Malam pertama dalam pesona malam hutan Kalimantan mengantarkan kami dalam tidur yang nyenyak setelah perjalanan yang cukup panjang dengan alat transportasi yang bervariasi. 
Hari kedua di pendakian kami lanjutkan dengan medan pendakian cukup rapat namun masih bisa dibaca apalagi dengan bantuan para porter. Hari kedua dengan medan 90% mendaki sepanjang hari cukup menantang. Hanya sedikit melewati turunan. Malam kedua kami menginap di ketinggian + 1300 m dpl, yaitu Pos Soa Badak. Sekitar + 100 meter dari pos tersebut sudah berdiri tapal batas antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah berupa tugu berbentuk tiang persegi panjang. Hari kedua spesies pacet yang muncul mulai bervariasi ditambah satu species berwarna hijau berloreng (Haemadipsa zeylanica) yang mana ketika menempel akan terasa sakit seperti terbakar. Alhamdulillah, saya belum pernah digigit pacet species yang satu ini.

Haemadipsa Zeylanica (pacet paling kanan)

Hari ketiga pendakian merupakan summit attack, medan yang dilalui paling terjal diantara hari-hari sebelumnya. Melewati pinggiran tebing, hutan lumut dan punggungan yang sempit memberikan sensasi yang luar biasa. Keterjalan medan pendakian di hari ketiga sudah cukup memberikan pengalaman yang luar biasa, berita baiknya di sepanjang jalur menuju puncak tidak akan kita temukan pacet. Momen tiba di puncak merupakan momen paling membahagiakan bagi pendaki. Setiba di puncak teman-teman mengabadikan momen bersama, lalu makan siang di atas puncak. Awan hitam berarak menyelimuti saat kami bersiap ingin turun. Sedia ponco sebelum hujan, kami bergegas turun kembali menuju pos Soa Badak. Tiba di pos Soa Badak saat malam sudah tiba sedikit menyulitkan namun akhirnya kami berkumpul lagi menikmati malam ketiga di Gunung Bukit Raya dengan kegembiraan sudah mencapai bonus yaitu puncak.

Hutan Lumut. Doc: Mbak Vera


Bersama lumut lucu di hutan lumut. Doc: Mbak Dewi


Puncak Kakam, Kalimantan Tengah, melalui Jalur Kalbar, 2278 m dpl. Doc: Mas Utut

Pagi hari setelah sarapan spagethi, kami bersiap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan turun. Membalas perjalanan naik yang banyak mendaki, jadi perjalanan kali ini banyak turunan. Kami kembali menginap di Hulu Rabang. Di tengah perjalanan sempat singgah di pos Linang untuk makan siang. Setiba di Hulu Rabang beberapa dari kami saling bertukar cerita sambil melepas penat bahkan ada yang saling memijat satu sama lain. Satu dari cerita di malam itu yang paling menginspirasi yaitu mendengar cerita dari salah satu Seven Summits Indonesia, Bob Sumoked. Beliau kebetulan mendaki dalam satu waktu namun beda pos saat di pendakian. Bertemu sebentar hanya di Puncak, lalu bertukar pengalaman dengan teman-teman yang lain yang sedang menapaki puncak ketiga, kelima bahkan keenam. Om Bob, begitu beliau disapa, mendaki Gunung Bukit Raya sebagai puncak terakhirnya untuk menjadi seven summiter. Malam terakhir terasa lebih panjang dengan lelah yang terbayarkan.

Pos Hulu Rabang sebelum perjalanan turun. Doc: Bg Elyudien

Hari terakhir perjalanan turun diselingi canda tawa. Beberapa guyonan keluar dari mulut kami. Di tengah perjalanan turun kami bertemu teman-teman dari Trash Bag Community yang sedang melakukan perjalanan naik di hari pertama mereka. Kebetulan salah satu dari mereka adalah senior saya. Setelah berkenalan dan berfoto bersama (khusus cewek :P) kami pun berpisah jalan. Kami keluar melalui pintu rimba dan merasakan sengatan matahari secara langsung dan melanjutkan perjalanan menuju Rantau Malam menggunakan ojek melewati medan yang terjal kembali kami rasakan.
Malam ini sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya, sebelumnya kami tidur ditemani suara-suara hewan di dalam hutan, kali ini kami tidur di Desa Rantau Malam ditemani penduduk yang berbaik hati mempersilahkan rumahnya dijadikan tempat menginap kami. Keesokan harinya kamipun kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan rute dan transportasi yang sama dengan sebelumnya. Sedikit berbeda saat tiba di Pinoh, kami harus naik truck menuju terminal bis. Kami harus naik bis Nanga Pinoh – Pontianak malam ini. Malam terakhir perjalanan panjang mendaki Gunung Bukit Raya kami habiskan dalam dinginnya AC bis selama kurang lebih 10 jam.
Terima kasih kami ucapkan kepada teman-teman yang mendaki. Pulau Kalimantan menunggu kedatangannya lagi. Salam pacet!


Freelance Travel Guide | Love Traveling | An easy going Travelmate | MAPALA UNTAN's Srikandi

3 comments

Asli bikin ane gregetan baca ceritanya. Ini gunung tertinggi di Kalimantan Indonesia (gunung kinabalu udah masuk negara malaysia) dan kamu udah hiking disini, salut.

capcus ke bukit raya, rasain sensasi nanjak sambil dihisep pacet. hihihi...

keren deh kak Ega. hobinya manjat manjat gunung :) ntar saya mau ke Kinabalu ah. mau nyaingin kak Ega


EmoticonEmoticon