Sensasi Arung Jeram di Sungai Ella

Dari kejauhan tampak bentangan sungai luas dengan air yang jernih. Bebatuan di bawahnya berkilauan, beberapa ada yang berwarna. Di beberapa titik tampak jeram memutih. Jembatan gantung kayu yang lumayan panjang membentang seukuran dengan lebar sungai. Sungai Ella, begitu warga menyebutnya. Sungai yang terletak di Desa Belaban Ella ini masuk dalam wilayah Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Taman Nasional dengan luas 181.090 Ha ini masuk dalam dua provinsi yaitu Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Arung Jeram di Sungai Ella

Rafting di Sungai Ella
Setelah berbagi pengalaman dalam pemanduan umum dan materi mountaineering bersama kelompok porter binaan TNBBBR di area camping ground di seberang sungai, saya melihat dari kejauhan, di seberang sana sudah bersandar perahu karet berwarna kuning. Bapak-bapak porter tampak serius mendengarkan arahan dari Mas Sigit, pemateri Rafting dan Tubing. Sambil bermain di bebatuan yang kebetulan airnya sedang dangkal, saya mengabadikan beberapa gambar di sungai ini. Air yang dingin, duduk-duduk di tepi sungai bermain air sudah lama tidak saya lakukan. Sedikit melegakan otot-otot setelah lama berkutat dengan kesibukan di kota.
Satu per satu bapak porter melintasi saya di sungai. Mereka sedang praktek self rafting, mengapung dan menghanyutkan diri hanya dengan menggunakan life vest. Hal ini dilakukan saat terjadi kecelakaan atau terpental jatuh dari perahu karet saat melakukan arung jeram. Selain self rafting mereka juga praktek membalik perahu dan menyelamatkan tim. Ini bukan yang pertama kali mereka lakukan dalam praktek materi. Umur bukan halangan bagi bapak-bapak porter untuk belajar. Ke depan mereka akan memandu tamu-tamu untuk mencoba sensasi rafting di sungai ini. Arung jeram di Sungai Ella bisa dilakukan oleh pemula maupun yang sudah ahli. Untuk pemula bisa dilakukan mulai di titik start di KM37 hingga KM35 dan untuk yang ahli dari KM35 hingga KM28.
Setelah bapak-bapak porter selesai praktek materi, tiba saatnya untuk saya mencoba. Setelah memakai life vest dan naik perahu, Mas Sigit berpesan kepada bapak-bapak porter yang sudah ahli untuk menjaga saya. Kapten yang duduk paling belakang dengan sigap memandu. Kami berkeliling di daerah air yang tenang terlebih dahulu sambil menunggu Mbak Ivonne untuk ikut serta ke KM35, rencananya saya dan mbak Ivonne jadi penumpang menyusuri sungai. Dengan perlahan saya ikut belajar mendayung. Ternyata mendayung dalam tim itu lumayan asyik dan sedikit lebih mudah. Dengan tenang kami menuju hulu sungai yang sedikit berjeram dan belajar untuk maju, mundur, berbelok bahkan memutar. Tapi tidak untuk praktek membalik perahu. 
Rafting di Sungai Ella

Setelah mbak Ivonne tiba, kami pun melakukan perjalanan menuju KM35. Air kering sedikit menyulitkan kami untuk lewat di beberapa titik jeram. Beberapa dari kami harus turun dari perahu dan observasi jalur di depan. Beberapa pohon kayu yang hanyut lalu tersangkut di bebatuan ikut menghalangi rute kami. Beruntungnya kami di sepanjang perjalanan para porter dan pemandu ikut bercerita dan mengenalkan pohon-pohon yang kami temui di pinggir sungai. Yang menarik perhatian adalah pohon dengan kulit kayu yang terkelupas dan berwarna kemerahan. Kayu belaban namanya, persis nama desa yang kami datangi ini. Konon katanya jika kulit kayu itu terjatuh ke dalam perahu di hari Jum'at saat melintasi sungai, kulit kayu tersebut bisa jadi obat awet muda. Begitulah mitos yang ada di Desa Belaban tentang kulit kayu Belaban. Setelah kurang lebih setengah perjalanan, salah satu pemandu mengajak kami untuk singgah di air terjun. Saya dan mbak Ivonne senang sekali mendengarnya. Kami menambatkan perahu ke sisi kiri sungai. 10 meter dari pinggir sungai ada air terjun dengan volume air yang agak kecil namun tinggi. Air terjun cabang sungai Semunga, begitu kata mereka menyebutnya. Air terjun ini cocok sekali menjadi tempat persinggahan saat lelah mendayung dan tempat istirahat sejenak untuk snack time
Air terjun cabang Semunga, tempat persinggahan arung jeram.

Setelah melanjutkan kembali setengah perjalanannya sembari bercerita khasiat beberapa pohon yang ada di pinggiran sungai tampak dari kejauhan Mas Sigit dan teman-teman porter dan pemandu lainnya menunggu kami. Sesuai perjanjian sebelumnya, mereka akan menjemput kami (lebih tepatnya perahu, :D) di KM35. Perahu kembali bersandar di tepian sungai dan Mas Sigit langsung bertanya perasaan saya setelah arung jeram. Sedikit bercanda saya bilang ingin lanjut ke rute berikutnya, jalur untuk yang sudah ahli. Hahaha. Beliau langsung menawarkan di lain waktu untuk datang kembali. Dan itu sepertinya sudah masuk dalam travel list saya kemudian hari. Setelah turun dari perahu kami buru-buru menceburkan diri ke sungai. Airnya sangat dingin tetapi harus saya rasakan karena sudah terlanjur basah saat mengarungi jeram.
Pengalaman pertama arung jeram di Sungai Ella memang mengesankan. Selain arung jeram kita bisa juga memancing, camping dan jika beruntung bisa bertemu dengan satwa-satwa yang ada di dalam hutan. Namun, jangan lupa untuk tetap mengikuti peraturan saat memasuki wilayah Taman Nasional, kita harus memiliki Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Perjalanan menuju ke Desa Belaban memakan waktu 5-6 jam dari Kota Sintang dan bisa melalui jalur darat menggunakan kendaraan roda dua maupun empat. Bagi yang berminat untuk mencoba sensasi rafting di Sungai Ella jangan lupa menghubungi pihak Taman Nasional ya Travelmates! Semoga ada kesempatan untuk kita kembali ke sana! :)

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Popular Posts

Follow by Email

@aigatiara