Sebenarnya kemaren sudah terpikir untuk menulis tepat di hari ulang tahunku. Tapi karena di hari itu rasanya sibuk sekali. Pagi-pagi harus mengerjakan urusan di rumah untuk Omar, lalu ada deadline job sedikit dengan sesi foto bersama Omar untuk konten Instagram. Meninggalkan usia 20-an pastinya bukan usia muda lagi, meski aku merasa tidak tua-tua amat (masih menolak tua). Percaya atau tidak, saat menulis ini, aku sambil membayangkan apa saja yang sudah aku lewati sejauh ini. Kejadian yang terlewati, orang-orang yang datang dan pergi, kesibukan yang silih berganti, apapun itu. Besar kecil, tua muda, bahagia sedih, tawa tangis. Semuanya. Tanpa terkecuali. 

Credit: Facebook


Akhirnya aku sadar, semuanya tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk aku sendiri. Meski begitu, aku bersyukur punya Omar sekarang. Sebagai penghiburku sehari-hari. Saat jenuh dengan keseharian yang begini-begini saja (bangun, mengerjakan tugas domestik IRT, bikin konten, menulis, mereview produk), dialah yang membuat aku semangat menjalani hari-hari. Ya setidaknya tidak bosan-bosan amat karena haris ekstra mengejar dia yang sudah bisa setengah berlari. Ya, Omar lagi belajar lari. Ngejar ayam dan kucing di halaman rumah. 😁

Jika ditanya apakah ada penyesalan yang sudah kualami sejauh ini dalam hidup? Awalnya iya, tapi setelah dipikir lagi, untuk apa menyesal? Apapun yang sudah aku lewati, menyesal pun tidak akan mengubah apa-apa, termasuk dulu, saat aku membuang banyak waktu untuk orang yang salah. Banyak yang bilang aku buang-buang waktu dan tenaga. Tapi hikmahnya melewati masa sulit dan sakit membuat aku sedikit lebih kebal sekarang dengan rasa sakit. Rasa sakit kehilangan, rasa sakit ditinggalkan. 

Bahkan rasa sakit itu sudah aku rasakan sejak aku kecil. Mengapa harus menyesal sekarang? Di saat berjuang hidup dan mati melahirkan Omar, itu adalah masa di mana aku tau bahwa berjuang itu dari diri sendiri. Aku hanya ingin menjadi sebaik-baik diriku, versiku, dengan penuh kewarasanku. Tanpa paksaan orang lain agar aku bahagia, dan Omar juga. 

Meski sampai saat ini sering kali aku mengalami sulit tidur. Tak bisa membedakan nyata atau mimpi. Saat terjaga di malam hari, sulit untuk tidur kembali. Lelah yang tak berujung tapi harus kuat demi Omar. Seandainya ada ramuan untuk menghilangkan ingatan, aku ingin beli 1. Wkwkwk.

Agar aku tidak ingat apa itu kekerasan fisik dan verbal yang selama ini ada di sekitarku. Capek.