Wednesday, 8 March 2017

Batu Daya, Bukit Unta Raksasa Kalimantan Barat

Bukit Unta atau biasa dikenal dengan Batu Daya merupakan bukit batu terbesar yang ada setelah bukit Kelam di Sintang. Bukit ini terletak di Desa Batu Daya Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Ketapang. Untuk menuju ke sana kita bisa melalui dua rute perjalanan. Rute air dan darat. Rute perjalanan air memerlukan waktu yang sedikit panjang dibandingkan jalur darat yang hanya menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam. Memulai perjalanan dari ibu kota provinsi Kalimantan Barat, Pontianak, untuk jalur air kita akan melalui pelabuhan kapal klotok di Rasau Jaya. Perjalanan air memakan waktu 12 jam untuk tiba di teluk Melano. Lalu perjalanan akan kita lanjutkan menggunakan sepeda boat kurang lebih 45 menit perjalanan. Menyusuri sungai Matan, kita akan tiba di Desa Matan dan masih harus menyusuri jalan tanah perkebunan. Biasanya kita bisa menumpang atau carter truk yang kebetulan melintas di lahan perkebunan. Bukan hal yang aneh jika kita lihat di kiri dan kanan perjalanan hampir keseluruhan lahan tampak tersusun rapi pohon sawit.
Batu Daya yang tampak seperti seekor Unta sedang duduk

Perjalanan menggunakan truk bisa sampai tiba ke kaki Bukit Daya di radius 2 km menuju bukit kita akan melihat sebuah sekolah dasar yang disediakan perusahaan untuk anak-anak kampung yang tinggal di desa Batu Daya. Kita akan bertemu Bang Aliong, begitu beliau disapa. Rumahnya terletak persis di depan Batu Daya, batu yang katanya bisa memperdaya mata manusia. Bentuknya yang berubah-ubah jika dilihat dari arah yang berbeda. Namun, di rumah bang Aliong kita cukup beruntung melihat batu Daya berbentuk seperti seekor unta yang sedang beristirahat. Hutan di sekeliling batu Daya hanya tertinggal sedikit sekali. Di tahun 1980-an dulunya juga pernah terjadi tragedi kecelakaan seorang pemanjat yang jatuh dari atas tebing lalu meninggal dunia. Bukit ini terkenal angker dan menurut kepercayaan masyarakat sekitar beberapa tahun belakangan pernah ada seorang pemburu hilang di dalam hutan. Konon katanya hutan tersebut dihuni oleh kera putih.
Untuk memasuki daerah Batu Daya kita akan diwajibkan untuk melakukan upacara adat. Sebagai bentuk perizinan agar diberi keselamatan saat mendaki maupun memanjat. Upacara adat harus dilakukan di kaki bukit. Ketua Adat akan membacakan doa-doa dan menyajikan sesajen berupa nasi kuning yang diberi lauk pauk berupa telur rebus dan ayam kampung berwarna hitam yang sudah terpanggang. Minuman khas masyarakat Dayak berupa tuak juga tidak ketinggalan. Selama ritual dilaksanakan kita diminta juga untuk berdoa di dalam hati menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
Setelah prosesi upacara adat selesai, barulah kita diizinkan untuk melakukan kegiatan. Pantangan-pantangan berupa menjaga Tutur kata selama dalam hutan juga harus dijaga. Dilarang untuk mengumpat, berteriak, membakar sesuatu yang berbau menyengat di malam hari, serta dilarang berteriak memanggil nama teman. Menurut kepercayaan warga, jika kita memanggil teman dengan cara berteriak, penjaga hutan atau makhluk halus akan menyerupai teman kita. Begitu pula saat melanggar pantangan yang diberikan, kita akan diganggu oleh penjaga hutan. Sebuah kewajiban untuk kita menghormati adat istiadat masyarakat setempat. Sebagai bentuk tenggang rasa antar suku yang berbeda-beda.
Bukit yang satu ini merupakan idola bagi para pemanjat lokal maupun luar. Tebing tinggi yang siap untuk dijamah tampak begitu gagah di bawah langit. Batu daya sebenarnya terdiri dari 3 buah batu besar yang terletak berdekatan. Yang paling besar disebut Batu Daya, yang terletak di belakang batu Daya adalah Kuang Kande' dan yang terkecil menyerupai kepala Unta itu Belah Ullu. Di atas Belah Ullu terdapat tonjolan batu kecil berbentuk sedikit persegi yang disebut Raban Manok (Kandang Ayam) karena bentuknya yang menyerupai kandang ayam.
Sekian cerita padat dan singkat mengenai Batu Daya atau Bukit Unta. Bukit unik ini pantas untuk kita jaga bersama sebagai tempat destinasi yang unik dan cukup terkenal di kalangan para pendaki maupun pemanjat. Bukit dengan ketinggian 958 mdpl ini hampir keseluruhannya terdiri atas tebing tinggi yang menjulang. Sedikit tips untuk para climber untuk jangan lupa melakukan persiapan fisik dan teknik tidur di tebing (flying camp) saat memanjat tebing ini. Lets rock!
Foto di tahun 2013

Foto bersama Local Guide dan Pemanjat Jepang. Doc: 2013


Freelance Travel Guide | Love Traveling | An easy going Travelmate | MAPALA UNTAN's Srikandi

5 comments

Wah keren yaa Batu Daya, kapan2 pengen mendaki kesana hehe tapi saya nya baru belajar mendaki nih

That's okay..pemula bisa kalo mendaki. Tapi harus latihan dulu.. ;) ada waktu nanti boleh nanjak sama2

Iyaa, sesekali kita nanjak sama2 yuk...

Hayuk. Yg penting wktunya pas


EmoticonEmoticon