Tuesday, 27 January 2015

Tahun Baru di Puncak Niut


Mungkin bagi sebagian besar orang tahun baru biasanya dirayakan dengan pergi ke pantai, kumpul bersama orang-orang terdekat atau tersayang, liburan ke pulau, jalan-jalan dan sekedar menghabiskan waktu berdua melihat pesta kembang api di beberapa tempat di tengah keramaian.
Tahun baru kali ini saya habiskan sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya saya lebih senang berkumpul bersama keluarga atau teman-teman dan pernah beberapa kali ikut menghabiskan waktu dengan pesta kembang api di pantai. Berawal dari ide tiga tahun yang lalu berkeinginan yang sama untuk menghabiskan tahun baru bersama “travelmate” saya dengan naik gunung. Saya sebut dia travelmate karena sebagian besar perjalanan atau liburan saya selama dibangku kuliah saya habiskan bersama dia. Lumayan banyak tapi masih banyak tempat-tempat indah yang belum kami kunjungi dengan kesibukan sebagai seorang mahasiswa. Sebenarnya momen mendaki gunung Niut ini bukan untuk menghabiskan tahun baru melainkan saat tahun baru inilah kami punya waktu yang bisa dimanfaatkan untuk berlibur.
Ide kami tahun ini cukup beruntung karena teman-teman yang lain juga antusias untuk ikut bersama. Keikutsertaan beberapa senior dan keluarganya juga menambah personil kami berangkat. Lima hari sebelum pergantian tahun baru sebagian teman berangkat ke Desa Dawar, tepatnya di Sanggau Ledo. Di sana tidak begitu menyulitkan kami untuk menginap dikarenakan ada seorang senior, yang biasa dipanggil Pak Atta, yang bermukim di sana. Sambil menunggu berkumpulnya semua tim untuk mendaki teman-teman yang sudah lebih dulu tiba menghabiskan waktu di desa dengan kegiatan sehari-hari sekedar merawat kebun senior, memancing dan lain sebagainya. 28 Desember, travelmate menjemput saya dikarenakan saya pulang terlebih dahulu ke kampung halaman. Perjalanan dia lewati dengan basah kuyup dikarenakan di akhir tahun ini diguyur hujan hampir setiap hari.
Perjalanan ke Desa Dawar kami lewati menggunakan dua rute yang berbeda dengan tim pertama. Tim pertama melewati rute Pontianak – Sanggau Ledo (Desa Dawar), menggunakan sepeda motor dengan waktu tempuh + 6 jam. Sedangkan kami berdua melewati rute Singkawang – Sanggau Ledo (Desa Dawar) dengan waktu tempuh + 3,5 jam. Namun perjalanan kami tidak semulus tim pertama, dikarenakan di tengah perjalanan kami dihambat oleh luapan air yang melintas di daerah Samalantan.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, setelah 1 jam berhenti untuk menunggu air surut yang menggenangi air setinggi lutut hingga pinggul mengakibatkan sebagian besar sepeda motor dan mobil berhenti terlebih dahulu. Setelah menunggu satu jam, kami mencoba untuk melintas jalan yang tergenang kurang lebih 50 meter. Masih dalam rinai hujan, kami melanjutkan perjalanan menuju Bengkayang. Kami memutuskan untuk menginap di rumah senior di Bengkayang dan melanjutkan perjalanan besok pagi meskipun rencananya besok pukul 7 pagi tim sudah mulai mendaki. Dan kami berencana untuk melanjutkan perjalanan dini hari pukul 4 pagi.

Banjir di daerah Samalantan menyebabkan kami harus menunggu air surut terlebih dahulu untuk melintas

Rencana gagal untuk berangkat lebih awal, karena kelelahan dan basah kuyup sepanjang perjalanan tadi malam. Kami bergegas packing saat jam menunjukkan pukul 7 pagi. Satu lagi kekeliruan kami temui, ternyata persimpangan jalan menuju Desa Dawar yang pertama merupakan jalan alternatif lain yang sudah rusak, akibatnya ditengah perjalanan kami kesulitan melintasi jalan berbatu, licin dan melewati bendungan yang hampir roboh. Sungguh perjalanan yang “memacu” adrenalin dan emosi. J Setelah menemui jalan sebenarnya, hatipun terasa lega. Namun ternyata jalan yang kami temui juga berbatu dan berlubang, sangat tidak cocok untuk sepeda motor matic.

Bendungan

Pukul 9 pagi akhirnya kami tiba di rumah Pak Atta, kami disambut senior lain yang ikut serta menghabiskan liburan di daerah pedesaan. Sesuai dugaan tim sudah berangkat mendaki pukul 8 pagi tadi. Kami pun bergegas mengemas sebagian logistik dan berniat menyusul tim. Dengan yakin kami menyusuri jalan desa menuju Gunung Niut, karena perkiraan kami dengan selisih 1,5 jam kami yakin bisa menemui tim yang berangkat terlebih dahulu.
Dengan sedikit bergegas kami berdua menyusuri jalan merah melewati perkebunan warga sambil bertegur sapa dengan warga. Hamparan kebun lada, jagung, dan mentimun mendominasi  hamparan kaki pegunungan Cagar Alam Gunung Niut. Tampak juga Gunung Keliung, Gunung Damus, dan Gunung Serang. Aroma pegunungan dengan mendung awan khas musim penghujan seakan menyemangati. Saya merasa tidak pernah seantusias ini untuk mendaki gunung, mungkin juga dikarenakan dua kali rencana ini gagal tahun-tahun sebelumnya.
Benar saja, saat berpapasan dengan ibu setengah baya yang selesai memanen mentimun, kami diberitahukan oleh beliau sekitar 5 menit yang lalu, 3 orang laki-laki baru saja melintas di kebunnya untuk mendaki gunung Niut. Kami pun segera bergegas melanjutkan perjalanan karena yakin itu pasti tim kami. Tidak lupa ibu itu memberi beberapa buah mentimun untuk kami, itu merupakan hal biasa yang terjadi saat kita menunjukkan keakraban dengan warga sekitar saat melakukan kegiatan dimanapun dan kapanpun.

Perjalanan menuju pintu rimba

Perjalanan menyeberangi sungai untuk menyusul tim pertama
Setelah 2 jam berjalan kaki kami tiba di pintu rimba, kami bertemu Bang Muherman dan Yono serta  satu local guide yang sedang berhenti beristirahat menyantap tebu. Ternyata sebagian tim sudah terlebih dahulu melanjutkan perjalanan. Setelah berbincang-bincang dengan pemilik kebun, kami melanjutkan perjalanan. Hati langsung lega karena memasuki pintu rimba bersama teman tim dan satu local guide. Perjalanan kami masih ditemani rintik hujan. Kira-kira satu jam perjalanan memasuki pintu rimba, local guide yang bersama kami yang biasa dipanggil Bang Sulam memberitahukan bahwa tim mungkin sedang berhenti istirahat karena beliau melihat ada asap di depan kami. Benar saja, kami mencium bau asap tersebut. Dengan sedikit menyusuri sungai, saya langsung menyapa tim dengan sedikit teriakan dan langsung dijawab oleh mereka.

Kami bertemu tim pertama

Kami akhirnya berhasil menemui tim awal ditepian sungai kedua yang sedang istirahat makan siang. Tim kami berjumlah 14 orang, terdiri dari 2 local guide: Pak Atta dan Bang Sulam, Bg Sarwoko dan Kak Dian bersama 3 anggota keluarganya (Abiel, Agie dan Nia), Bang Muherman serta 4 junior (Fino, Madun, Jay, Yono) dan kami berdua (Ega dan Yus). Ada yang berbeda dengan perjalanan saya kali ini. Selain berkumpul dengan beberapa senior dan junior, kami juga diikuti oleh seorang anak dari senior yang masih berumur 6 tahun, Abiel. Bahkan Abiel sendiri sudah mendaki Rinjani dan Semeru 2 tahun belakangan bersama keluarganya. Dia merupakan yang termuda dan Pak Atta yang tertua di dalam tim kami.  Itu juga memberikan semangat tersendiri bagi saya untuk mendaki kali ini. Setelah setengah jam kami berkumpul, kami melanjutkan perjalanan meskipun cuaca tetap memilih untuk membasahi perjalanan kami. Perjalanan dilanjutkan hingga pukul 4 sore dengan medan lumayan terjal dan kami berhenti di sebuah sungai kecil untuk mendirikan shelter.

Malam pertama di shelter pertama
Malam pertama masih diguyur hujan gerimis, tidur terasa nikmat sekali, apalagi bagi kami berdua setelah perjalanan jauh, terhadang banjir, jalan rusak, sedikit menambah kecepatan jalan mengejar tim, dan medan mendaki yang lumayan terjal. Sebelum tidur hal-hal itu masih terbayang dimalam pertama. Salut untuk travelmate saya, thank you for this year. J Bagi saya ini tahun baru paling berkesan, bisa menghabiskan waktu dengannya sesuai dengan rencana.
Hari kedua saat bangun tidur pegelangan kaki kanan saya terasa sakit. Teringat sakit ini saat terjatuh memanjat di  wall climbing di Sekretariat. Mungkin karena terkilir beberapa waktu lalu yang saya pikir sudah sembuh. Sedikit mengganggu namun tetap saya tahan, mudah-mudahan saja tidak memburuk. Setelah sarapan perjalanan kami lanjutkan hingga ketinggian + 1300 mdpl. Medan yang kami lalui juga tidak kalah terjal namun tidak sebanyak kemarin. Dan ditengah perjalanan kami sempatkan untuk singgah di Sungai Tanggi, dengan riam yang lumayan lebar, kami beristirahat sambil mengabadikan beberapa gambar keindahan riam bersama dengan objek yang ada tentunya. Hehehehe…

Sungai Tanggi
Sungai Tanggi

Di ketinggian + 1300 mdpl kami mendirikan kembali shelter untuk bermalam. Ternyata rencana untuk menginap di puncak tidak bisa dilakukan dikarenakan jauh dari sumber air. Namun dapat dipastikan perjalanan menuju puncak esok hari hanya membutuhkan waktu 3 jam perjalanan. Seperti biasa, sebagian tim mendirikan shelter dan sebagian lagi memasak. Selesai makan malam saya memilih untuk langsung istirahat mempersiapkan tenaga untuk esok hari menuju puncak. Malam ini tidur masih juga dihujani gerimis dan siang tadi diperjalanan satu pacet menempel dipergelangan kaki saya, dia berhasil menyedot darah namun sepertinya belum kenyang. Hampir semua anggota tim sepertinya terkena serangan pacet, maklum dimusim penghujan seperti ini pastinya lebih banyak ditemui.
Perjalanan menuju puncak lebih singkat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dan memang seperti biasanya untuk menuju puncak, barang yang lainnya ditinggal dan kami hanya membawa makanan, air dan barang-barang penting lainnya. Untuk perlengkapan shelter ditinggalkan agar memudahkan menuju puncak karena medannya lebih terjal. Kami melewati sebuah punggungan lalu tiba di Puncak disambut sinar matahari. Abiel, yang terlebih dahulu tiba di puncak memanggil-manggil sang kakak saat puncak sudah 50 meter di hadapan kami, kami pun bergegas. Tiba dipuncak, beberapa dari kamu mengeluarkan hape, kamera, cemilan dan air minum. Beberapa sesi foto-foto segera dilakukan di tugu triangulasi, sendiri, berdua, keluarga, pasangan hingga semuanya. Selesai mengambil foto dan istirahat, pukul 12 siang kami segera turun menuju shelter tadi malam. Saat tiba di shelter tadi malam kami diminta untuk bermalam lagi di tempat ini karena diperkirakan tidak bisa mencapai shelter selanjutnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore.

Foto bersama di Puncak Niut

Tongsis :v

Perjalanan kali ini memang agak sedikit santai, menikmati setiap momen walaupun hampir setiap hari pakaian selalu basah, tidak pernah kering. Malam ini merupakan malam pergantian tahun baru yang sebenarnya. Apa yang kami lakukan? Tidur lebih awal, di dalam dome, dibawah hembusan angin dan suasana shelter yang lembab. Beberapa senior berbincang-bincang saat menjelang tidur dan kami segera mengambil posisi tidur sesaat setelah menentukan posisi (resection) karena kebetulan kami membawa alat navigasi lengkap. Tidak ada bakar-bakar jagung, ayam, sosis maupun daging. Tapi kami merasa senang.

Sharing materi Navigasi Darat sebelum tidur

Malam pergantian tahun baru, tidur bersama teman-teman di ketinggian + 1300 mdpl menyatu bersama alam. Sungguh nikmat rasanya bercampur dengan lelah dan sedikit sakit dibeberapa bagian kaki. Masih tidak bisa dilupakan saat tengah malam, tidak pasti tepatnya pukul berapa, sambil kami membetulkan posisi tidur karena dome miring ke sebelah kiri, Fino, mengucapkan Selamat Tahun Baru. Samar-samar saya dengar dan saya tetap memilih diam, dibawah sleeping bag. Saya terjaga saat dini hari, dan segera mengucapkan Happy New Years ke travelmate saya saat sadar bahwa sudah pergantian tahun.
Beberapa lelucon terlontar saat bangun tidur, hirupan nafas pertama ditahun 2015 hingga buang air pertama! Hahaha..tapi yang pasti bagi saya, ini merupakan pendakian gunung keempat di tahun keempat kami bersama ;) Perasaan senang terlihat dibeberapa wajah kami. Akhirnya perjalanan menuju puncak selesai namun kami harus segera turun mengingat beberapa dari kami besok harus sudah pulang ke Pontianak. Perjalanan turun tidak semudah perkiraan, medan yang terjal yang kami daki sebelumnya menyisakan medan yang licin saat turun sehingga kami perlu menggunakan tali agar lebih safety.
Tidak lupa kami singgah beristirahat kembali di Sungai Tanggi, riam tempat kami istirahat saat perjalanan naik. Hujan mengguyur lebat sepanjang perjalanan kami. Hingga tiba di Sungai Tanggi kami segera memasang flysheet dan masak air. Makan siang kali ini agak sedikit special, hidangan spageti menemani kami siang ini. Selesai makan, masih dengan keadaan kedinginan dan basah kuyup kami membantu suhu tubuh agar lebih hangat dengan duduk mengelilingi api. Kami harus menunggu karna sungai yang akan kami lewati bertambah debit air dan kuat arusnya. Setelah 2 jam menunggu, batu-batu sungai mulai tampak, teman-teman yang lain memasang tali untuk mempermudah melewati penyeberangan (basah), Abiel lebih dulu menyeberang, disusul dengan yang lainnya. Perjalanan kembali dilanjutkan. Pukul 3 sore Pak Atta berhenti dan mengeluh sakit kaki karena saat perjalanan naik beliau dan Madun disengat jenis Tawon yang bersarang di akar pohon besar. Dia pun memilih untuk mendirikan shelter kembali di tengah perjalanan. Padahal rencana awalnya kami ingin melanjutkan perjalanan hingga tiba di desa hari itu juga. Dengan logistik yang hampir menipis kami terpaksa menginap lagi dengan pertimbangan yang ada. Makan malam terakhir terasa sangat nikmat. Kami memasak soto sederhana dan irisan cabe rawit ditambah kecap dan irisan bawang merah. :9

Bincang-bincang malam
Kami semua tahu hari ini kami akan segera tiba di desa, tepatnya di rumah Pak Atta. Selesai sarapan dan packing, kami segera melanjutkan perjalanan. Sekitar kurang lebih 2 jam perjalanan kami keluar dari pintu rimba dan mulai memasuki perjalanan yang melewati perkebunan warga. Sebagian tim berhenti beristirahat di kebun tebu, sebagian lagi bergegas karena sore akan pulang, dan kami berjalan dengan santai sambil singgah memanen cabe, pepaya dan sayur. Siang tiba di rumah Pak Atta. Senior yang tidak ikut mendaki, Bg Niwan, menyambut dengan wajah sumringah. Kami segera beristirahat dan makan siang, sebagian lagi bersih-bersih dan mengemas barang yang ada. Nikmat tak terkira melewati perjalanan pergantian tahun baru kali ini. Satu hal yang saya dapatkan dari perjalanan ini, untuk mencapai sesuatu yang kita impikan tidaklah mudah, banyak medan berbatu, terjal, dan licin serta menguras tenaga. Usaha yang besar akan menghasilkan hasil yang memuaskan pula. J Semoga akan ada cerita hebat lainnya yang akan kami lewati. Aamiin.



Freelance Travel Guide | Love Traveling | An easy going Travelmate | MAPALA UNTAN's Srikandi


EmoticonEmoticon