Sunday, 20 April 2014

Pulau Kabung, Pulau Sederhana Yang Penuh Cerita

Pukul 7.30 kami tiba di Sui Raya kepulauan dan kapal kecil untuk penyeberangan ke pulau Kabung sudah siap untuk berangkat. Namun dikarenakan ada beberapa kendala di perjalanan, maka perjalanan ke pulau Kabung yang direncanakan pukul 6 pagi sudah menyeberang menjadi molor beberapa jam. Setelah parkir motor (di dermaga penyeberangan disediakan jasa penyimpanan motor Rp 10.000,-/3 hari) kami pun naik kapal dan memasukkan barang. Menit demi menit di perjalanan, biru air laut pun semakin terasa ditambah tiupan air laut. Sekitar 45 menit perjalanan melewati laut dan ongkos penyeberangan Rp 10.000,-/orang, akhirnya kami sampai di pulau yang terdapat 5 rukun tetangga tersebut. Kami segera melapor dan izin ke ibu RT (Bu Kartini) untuk memberitahukan bahwa kami akan menginap di Pantai. Penduduk di pulau ini memiliki mata pencaharian nelayan (menggunakan bagan) dan berkebun (kebun cengkeh dan pala). Sebagian besar rumah di pulau ini memiliki kolong rumah yang tinggi. 

Hasil bagan nelayan, menjemur ikan teri.

Bentuk rumah penduduk pulau Kabung


Terdapat satu rumah yang disewakan milik Bu Kartini, namun untuk menghemat biaya kami menolak tawaran tersebut. Waktu terus berjalan dan kami segera menumpang sebentar di rumah beliau untuk masak dan makan siang. Lima teman lainnya survey lokasi yang akan dijadikan tempat untuk menginap nanti malam dan dua hari kedepan. Setelah masak, kami iseng-iseng memancing dengan tali pancing yang digulung sederhana saja. Lumayan untuk menambah lauk nanti malam.

Ikan hasil memancing di waktu senggang, so cute :D


Sambil menikmati air laut yang biru menghiasi karang-karang yang indah juga disapu angin pantai, teman-teman survey pun kembali. Kami langsung makan siang terlebih dahulu sebelum briefing untuk malam ini. Setelah berdiskusi dan dengan beberapa pertimbangan kami akhirnya memutuskan untuk menginap di pantai bebatuan sekitar setengah jam berjalan kaki dari rumah bu Kartini. Kami harus menapaki jalan setapak dan batuan-batuan terjal. Di siang hari yang panas dan medan yang lumayan licin berbatu kami cukup terhibur dengan hamparan air laut yang membiru. Indah sekali!! Mungkin dikarenakan saya sangat suka pantai ;) . Pukul 15.15 akhirnya beberapa kami tiba di tempat menginap dengan hamparan batu-batu berukuran kecil hingga sedang. Sambil berbaring di bebatuan, sebagian teman beristirahat dan beberapa teman lainnya berboulder ria di bebatuan besar. 

Pantai bebatuan untuk tempat menginap dimalam pertama


Pukul 17.00 beberapa teman memutuskan untuk mandi air laut dengan terjun dari batu tinggi. Kelihatannya sangat menggoda, namun sayang saya tidak ikut dikarenakan kami kesulitan air tawar untuk mandi mencuci air asin di tubuh nantinya. 

Loncat Indah

Mandi air laut


Setelah menjadi penonton teman-teman mandi, kami bersiap-siap pulang dan masak untuk makan malam. Makan malam ini terasa nikmat sekali dibawah cahaya bulan dan hiburan bunyi gelombang beriringan. Malam ini saya berencana berburu ubur-ubur lho! Eh bukan, tapi...kepiting!! My favorite seafood! The most delicious seafood ever! Setelah makan, seorang teman minta tolong untuk ditemankan buang air. Hehehe. Dengan menapaki bebatuan pantai yang licin saya ikut di belakangnya dengan seorang lagi teman. Saat teman yang pertama sedang khusyuk, saya dengan iseng mengarahkan cahaya senter ke bawah bebatuan. Dan dengan sigapnya mata saya tertuju dengan sebuah makhluk berwarna orange kemerahan terselip dibawah sebuah batu! Kepiting!! Mata mungkin terbelalak gembira :D Saya berbisik ke teman yang bersamaku untuk mengintip juga dan dia langsung dengan suara setengah berteriak menyebut nama hewan itu! Otak langsung berputar untuk menangkapnya. Saya langsung memanggil teman cowok untuk membantu menangkap, seperti tidak percaya dengan ukurannya dia datang. Namun saat dia melihat langsung dia terkejut dan memanggil teman-teman yang lain untuk mendekat dan mengepung makhluk itu! (Maklum, sebagian besar dari kami mungkin ini kali pertama melihat dan menangkap langsung kepiting) Klop sekali! Kepiting pertama berhasil ditangkap dan seorang teman langsung menghempaskannya ke bebatuan agar lumpuh! Kepiting pertama diamankan! Santapan yang sangat diidam-idamkan ingin dimakan saat berlibur ke sebuah pulau! I got it! Beda lho rasanya kalo kita beli. Jadilah malam itu kami bertaburan ditepi pantai dengan basah-basahan mencari kepiting di bebatuan. Namun tidak berlangsung lama setelah menemui hewan lunak panjang dan berbulu berwarna hitam (sepengetahuan saya itu namanya teripang) bentuknya sangat menggelikan sekali. Membuat bulu merinding!! Saat teman yang lain menangkap kepiting keempat yang lumayan besar (tapi besar kepiting yang kutemui pertama) dia mendapat luka akibat jepitan capit kepiting dijarinya. :D Aku memasak hasil tangkapan kami dan berbagi rasa. Bisa dibayangkan 4 ekor kepiting dibagi untuk 18 orang? Bukan seberapa banyak jumlahnya tapi seberapa nikmat rasanya...

Kepiting ini siap disantap!!

Seafood terenak yang pernah ada :d


Setelah berbagi rasa kepiting yang berwarna cerah itu satu persatu, kami tidur di tempat masing-masing, sambil dibelai angin pantai. Baru saya menyadari bahwa angin di Pantai ini tidak seperti pantai yang  saya datangi lainnya. Angin dan ombaknya lebih tenang sehingga tidur langsung di atas matras tanpa kedinginan dan gangguan nyamuk nakal. Sekilas teringat sebelum terlelap bahwa saat kami akan berangkat ke Pantai berkerikil ini orang-orang kampung bilang bahwa tempat ini terkenal angker karena ada tumbuh pohon kayu ara yang sangat besar tepat ditempat itu seperti kami menginap di bawahnya. dan juga beberapa pemuda desa bilang ada kuburan orang yang tidak punya keluarga tepat di belakang Pantai ini. Alhamdulillah hingga matahari terbit tidak ada kejadian aneh yang mengganggu.

Hari kedua tidak kalah asyiknya dengan hari pertama di pulau ini. Dihari kedua ini saya menghabiskan waktu sepuasnya bermain air, berenang (walaupun saya tidak terlalu bisa berenang). Kebetulan ada teman yang membawa google, cukup membantu untuk menikmati dan berkenalan dengan ikan-ikan yang sedang kesana kemari bermain di rumah riak air laut. Walau Kami hanya berenang di tepian batu karang, namun karang-karang di bawah lautnya tidak kalah cantik! Andai saja saya punya peralatan snorkeling yang lengkap! Tidak lupa juga kami mengabadikan momen indah tersebut!




Hingga siang tiba selesai bersih-bersih membilas tubuh dengan air tawar, kamipun kembali ke tenda untuk masak dan makan siang. Rencananya sore ini kami akan menginap di perkampungan sekaligus mempermudah besok paginya untuk bersiap-sip dijemput pulang ke Pontianak. Selesai makan siang beberapa dari kami istirahat. Saya diajak seorang teman untuk menemani dia snorkeling, tapi saya hanya berjalan melewati tepian batu karang sambil melihat dia bermain air dan berenang. Sekitar 45 menit selesai menemaninya, di jalan pulang saya terjatuh di bebatuan saat melompati satu batu yang tidak terlalu tinggi. Cukup menyakitkan..dan membuat lutut kiri saya memar. Beruntung saya masih bisa berjalan pulang walau sesekali dibantu teman. Sesampai di tenda saya tertidur di bebatuan saat mengistirahatkan kaki yang masih terasa sakit. Saya terbangun saat teman-teman berkemas untuk kembali ke perkampungan. Perjalanan pulang ke kampung terasa lebih singkat dan setiba di kampung kami bersiap untuk memasang kembali dome. Kami memilih lokasi di tepi dermaga yang sedikit berpasir. Sebelum magrib kami menghabiskan waktu dengan berenang kembali dibawah dermaga kayu sederhana tempat warga menyandarkan kapal kecil dan biasanya juga tempat memancing. Saat matahari tenggelam kami menyudahi aktivitas berenang kami (saat itu air laut sedang pasang, dan saya dengan susah payah berenang sambil berpegangan ke tiang-tiang dermaga). Saat malam tiba beberapa dari kami masak dan lanjut seperti biasa untuk makan malam. Di perkampungan ini kami punya kesempatan untuk mencharge hape dan menghubungi keluarga karena adanya sinyal di desa ini (ditempat sebelumnya tidak ada). Kebetulan saat tiba di dermaga Ibunda tersayang menelpon menanyakan kabar karena tidak bisa dihubungi satu malam. Pesannya agar aku berhati-hati saat berenang. L thanks Mom. Malam itu kami habiskan dengan "ikut-ikutan" bersama anak-anak SMA yang juga berlibur di pulau ini. Malam itu mereka ada acara bakar-bakar cumi dan ikan tidak jauh dari Pantai kami menginap, otomatis kami pun membantu (lebih tepatnya mungkin mengganggu dan ikut seolah-olah sudah lama kenal), lebih tepat lagi membantu mereka menghabiskan cumi bakarnya yang menggoda itu. 

Ikan bakar


Pukul 9 malam saya duluan masuk ke dalam dome untuk tidur. Beberapa teman masih menikmati bulan Purnama yang berada tepat di depan kami. Cahaya bulan tampak berlomba-lomba bersama cahaya bagan (seperti perangkap ikan yang diberi lampu agar gerombolan ikan mendekat) menyinari air laut. Sungguh malam yang indah. Pagi-pagi saya terbangun dengan hiruk piruk teman membuat kopi dan mengobrol. Saya kepanasan keluar dome, maklum matahari terbit tepat di depan Kami. Setelah packing semua barang yang ada, kami pun bersiap menunggu jemputan kapal untuk pulang. Tidak lama setelah berbincang-bincang bersama keluarga Bu Kartini, kapal kecil berwarna hijau kemarin yang membawa kami ke pulau ini kembali menjemput untuk mengantar kami pulang. Waktu di sini terasa sangat singkat sekali. Ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi. Perjalanan pulang kami berjalan lancar walaupun terasa letih, namun sangat berkesan dan menggembirakan J. See you next time Kabung..

Perjalanan pulang menuju Pontianak





Freelance Travel Guide | Love Traveling | An easy going Travelmate | MAPALA UNTAN's Srikandi


EmoticonEmoticon